KOTA CIREBON (CU) –  Budayawan Cirebon Muhamad Mukhtar Zaedin menilai puncak pimpinan kraton Kasepuhan tidak bisa dilihat dari garis keturunan namun berdasarkan asas manfaat dan kemampuan dalam memimpin.

“Studi kasusnya sudah ada pada zaman Pangeran Cakrabuana yang mana Pangeran Cakrabuana pada saat itu adalah raja Cirebon yang menyerahkan tahtanya kepada Sunan Gunung Jati, padahal pada saat itu, Pangeran Cakrabuana sudah memiliki keturunan laki-laki yakni pangeran Carbon,” ujar Mukhtar saat ditemui sejumlah awak media, Sabtu (5/6/2021).

Dikatakan Mukhtar, secara kapasitas pada saat itu Pangeran Carbon adalah panglima perang kesultanan Cirebon sejajar dengan Adipati Sarwajala atau Ki Gede Bungko atau Jaka Taruna dibawah komando Adipati Keling.

“Pada peristiwa 1527 awal pemberangkatan pasukan Cirebon dan Demak berangkat ke Batavia untuk melawan Portugis, pangeran cerbon pada saat itu ikut andil dalam peperangan tersebut artinya secara kapasitas sudah mumpuni,” katanya.

Dikatakan Mukhtar, dari sisi pengalaman Sunan Gunung Jati mempunyai pengalaman yang sudah tingkat internasional dan secara sisi keagamaan, Sunan Gunung Jati sudah mencapai derajat kewalian, oleh karena itu Pangeran Cakrabuana dengan senang hati menyerahkan tahta kerajaan Pakungwati ini ke Sunan Gunung Jati, walaupun statusnya adalah menantu dari Pangeran Cakrabuana.

“Untuk status Polmak menjadi Sultan itu sangat bisa sekali, karena kalau dilihat dari studi kasus sebelumnya asas dasarnya adalah berdasarkan kemampuan bukan berdasarkan keturunan, itu yang harus kita pahami bersama,” katanya.

Ketika sebuah kraton di pimpin oleh orang yang tidak memiliki kemampuan dikatakan Muhtar, maka tinggal menunggu kehancuran nya, itu adalah teladan Rasulallah, ketika orang tidak profesional dalam mengerjakan sesuatu maka jangan diberi tanggungjawab apalagi masalah yang besar seperti kesultanan.

“Kepada anak pun tidak masalah, selama anak itu punya kemampuan dalam memimpin,” tandasnya.

“Contoh lain, Adipati Unus yang menyerahkan tahta nya kepada Adipati Trenggono, polemik ada namun pada saat itu Adipati Trenggono menunjukan kesuksesannya dengan Sunan Gunung Jati yang berhasil mengusir Portugis dari Batavia,” jelasnya.

Disinggung mengenai polemik yang terjadi di Kraton Kasepuhan, Mukhtar mengatakan, cara penyelesaian terbaik adalah semua pemangku kepentingan berkumpul dan berdiskusi berdasarkan landasan yang benar dan tentunya yang harus bermanfaat bagi Cirebon.

“Mangga silahkan dirembugkan bagaimana baiknya dan sejarah Cirebon yang sudah ada bisa menjadi pelajaran,” katanya.

Dalam musyawarah itu, ditambahkan Mukhtar, harus disepakati siapa yang mampu memberikan manfaat yang lebih banyak kepada masyarakat Cirebon.

” Kalau bedah silsilah silahkan diselesaikan, dan saya dukung bedah silsilah, kalau di undang ya saya akan datang sesuai dengan kapasitas saya,” tutup nya.

Editor : Jhon